lebih jauh. Biarlah derita ini terpendam dalam jiwaku. Jangan diungkit barang yang telah terendam lama. Biar aku saja yang menderita. Jangan yang lain turut merasa. Cukup satu contoh menyibak nada, yang lain nggak usahlah.
Itulah renungan, pekikan hati,
jerit batin seperti mutiara terpendam dari bocak cilik seperti aku. Merana,
merintih, menangis sendiri. Tidak ada yang menemani, sebab sesepuh telah
beranjak jauh yang tidak mungkin kembali lagi.
Topeng tatapan matanya hampa.
Sepertinya telah sirna entah berapa lama. Duka lara kian menari mengajaknya
goyang ikut irama alami. Mungkin sudah suratan, nggak boleh kita menolaknya.
Batu ujian semakin runcing nan tajam mengoyak, melumat riangnya masa kecil.
Semuanya tidak dihiraukan lagi. Yang paling penting, aku harus berkarya
meskipun badai dan topan siap menerkam jiwa. Begitu tekadnya yang terekam dalam
benaknya ketika ia masih esde dulu.
Hingar bingarnya suasana kota,
jerit-jerit kecil teman sebaya, seakan belum mampu mengobati lukanya yang amat
dalam. Bayangkanlah, masih imut-imut dia harus sudah membanting tulang, mencari
sesuap nasi dari pagi hingga petang menyingkap bumi. Lagi pula, saat sekarang
ini mencari kerja dalam usia muda tidaklah segampang membalikkan telapak
tangan. Biar telah di depan mata, masih bisa luput dari genggaman. Jangankan mendekat,
menyapa saja kerja itu masih enggan.
Untunglah Topeng masih ingat
pesan si bapak. Berdoa dan berusaha niscaya rezeki itu akan datang juga.
Benarlah adanya. Nggak lama setelah itu, Topeng jadilah penjaja koran dan
makanan kecil. Digelutinya kerja yang tak seberapa itu. Terik mentari dan
kucuran hujan jadilah santapan sehariannya. Gosongnya kulit tidaklah
melunturkan semangat juangnya bak pahlawan Nusantara di medan laga, telah siap
segalanya.
Hebat.....! Koceknya kini kian
menggembung, namun ia tetap bermurah hati. Kawan lain juga ketiban
rezeki.Ibarat makan durian, makannya berbagi searoma harum menyibak langit
biru. Kawan sepermainan bisa turut berpesta meskipun hanya dengan lauk yang
sangat sederhana. Anak-anak kampung Rambung Binjai dikumpulkannya di
kediamannya sendiri. Semuanya dikasih makan, uang, pakaian untuk menopang hidup
mereka, yang benar-benar mereka butuhkan.
Hari ke hari kebaikan Topeng
menyibak jagad melukis alam. Nggak ada sedikit pun terbesit di hatinya rasa
rugi dalam membantu teman senasib sependeritaan. Orang-orang kecil seperti dia
seakan hendak menari dalam sebuah festival. Mereka diajar, dididiknya membuat
pisang goreng , gurih nan mengulas rasa.
Duh, nyata benar kebaikannya.
Rasa pisang goreng buatan Topeng memang lain dari yang lain, lain dari semua
masakan. Pokoknya siiiiiiip deh. Kita pun belum pernah mencicipinya sendiri.
Tetapi, bagi orang-orang yang pernah membeli dan memakan masakannya, mereka
semua mengatakan sungguh nikmat rasanya. Wou......, membuat liurku menetes
tiada batas. Tes.......tes.........tes....., mengalir bagai air hujan mengguyur
bumi.
“ Bang Topeng , setelah usaha
kecil abang berhasil seperti ini, apalagi yang akan abang lakukan ?” tanya
bocah tetangga.
“ Masih banyak yang harus
abang kerjakan. Satu di antaranya meringankan tetangga kita dalam bekarya dan
menciptakan lapangan kerja baru. Lagi pula, sejak abang menjual makanan kecil
dulu, sudah tertanam di hati ini untuk menjadi orang tua asuh.”
“ Apa nggak sebaiknya abang
belikan dulu sebidang tanah dan membangun rumah di atasnya ?” tanya anak kecil
lainnya.
“ Wah, kalau hal itu yang kita
pikirkan dulu, tentu saja janji abang akan lama terlunasi.”
“ Janji apa itu, Bang ?” tanya anak-anak serempak.
“ Kata orang tua abang, nazar
itu harus dilunasi. Kalau tidak, kita akan sengsara sendiri. Bila sudah
dilunasi, yang lain itu akan mudah datang.,” ujarnya mantap.
“ Ou........ou........!” Si
adik bengong sekaligus takjup dan bangga menyaksikan Bang Topeng yang dermawan.
Selang beberapa tahun
kemudian, bumi basah sebasah-basahnya. Kodok-kodok beriang sorak. Burung camar
melayang-layang di udara begitu senangnya. Rerumputan tidak kering lagi.
Dedaunan menghijau mengulas senyum. Ya, senyum mereka begitu manis menggoda
hati. Pepadian penuh berisi dan tidak pernah menangis kayak dulu lagi. Semua
gembira membalut jiwa berhias senyum bidadari.
Bang Topeng kini telah makmur
hidupnya. Ia nggak miskin kayak dulu. Rumahnya gedung besar, namun tetap biasa
saja. Pemuda itu tetap rendah hati dan tidak pernah menyombongkan diri kepada
siapa pun. Bahkan saat ini anak asuhnya
semakin banyak saja. Ada yang tua dan ada pula yang masih muda sekali. Pokoknya
yang nggak sanggup membiayai hidup, tentu dibantunya, boleh jadi ada yang
dikerjakannya di tempat usaha kecilnya itu. Namun begitu, masih ada saja orang
yang iri hati kepadanya.Entah mengapa bisa jadi begitu.
Malam itu saat orang lagi
lelap-lelapnya, rumahnya digasak maling. Mereka mengambil barang berharga seperti kereta, perhiasan, dan peralatan
elektronik. Rumahnya jadi acak-acakan, namun ia tetap tenang saja.
“ Bang Topeng, mengapa abang
diam saja barangnya diambil orang ?” tanya warga yang masih muda darinya.
“ Biarlah, mungkin saja itu
rezeki dia.”
“ Rezeki sih rezeki, kalau
ngambil begitu kan itu namanya pencuri. Pencuri itu harus dihukum, nggak boleh
kita diamkan saja,” jawab yang lain geram.
“ Sudahlah, biarkan saja,
nanti juga kembali barangnya,” bujuknya pada pada adik-adik di kampung itu.
“ Nggak mungkin kembali, Bang,
kalau tidak kita cari,” sergah yang lain.
“ Sudah, sudah, nggak usah
dipikirkan, itu harta kan bukan milik kita, tetapi milik Allah. Kita hanya
dikasih pinjam.Nah, kalau yang punya ambil, ya terima saja dengan lapang dada.
Itu bukan hak kita. Sudahlah, nggak perlu dibesar-besarkan. Mari kita urus
pekerjaan kita saja, yang begituan nggak usah. Kita serahkan saja semuanya
kepada Allah Yang Punya Kuasa. Ayo.........!” nasehatnya bijak.
Warga lain dibuatnya
terbengong-bengong namun tidak bagi Topeng. Ia tetap tenang dan bersahaja
sambil mengumbar senyum kehangatan.
Nah benar saja. Nggak berapa
lama semua hartanya yang hilang itu kembali sendiri diantar sama yang ambil.
Wou.........., masyarakat telah numplek ingin menghakimi sendiri, ingin
menggebuki, memukuli hingga babak belur, namun dicegah Topeng.
“ Kita jangan main hakim
sendiri, itu nggak bisa menyelesaikan masalah.Biar, biarkan dia ngomong
sendiri. Apa kesalahannya, mengapa dia mengambilnya. Ayo, anak muda, bicaralah
yang jujur, katakan ada apa ?” tanya Topeng pasti.
“ Maafkan saya,Tuan !”
“ Jangan panggil saya tuan,
cukup panggil saja abang, biar lebih akrab,” pintanya.
“ Maafkan saya, Bang ! Saya
telah mengambil harta abang.”
“ Mengapa kamu mengambilnya ?”
desaknya.
“ Saya terpaksa,Bang. Saya
kepepet, habis biaya hidup nggak cukup. Anak yang sekolah perlu biaya,Bang.
Lagi pula sekarang lagi krisis ekonomi, Bang !”
Topeng cuma geleng-geleng. “
Untuk biayai anak bukan begitu caranya. Kamu harus kerja yang benar. Kerjanya
harus halal, apalagi untuk membiayai hidup mereka. Nggak mungkinlah kita kasih
makan dengan bara api yang menyala-nyala dan membakar perutnya dan perutmu
sendiri.”
“ Habis, nggak mungkin ada
yang mau menerima saya bekerja,Bang.”
Warga pada teriak mengejeknya.
Mau ditolong nggak sudi. Hu......!
“ Ada, ada yang mau. Kamu ikut
kerja saja di sini dengan mereka. Saudaramu yang lain pun akan menerimanya
dengan senang hati. Lihat mereka. Semuanya juga orang yang susah dan dulu nggak
punya kerja. Benar,kan ?” tanya Topeng sambil menatap sekelilingnya.
“ Ya, asal kerjanya yang
benar, jujur, setiakawan, “ teriak mereka serempak.
“ Benar,Bang ? Topeng
mengangguk. Makasih,Bang !”
Bahagia Topeng menyambut
saudaranya yang telah insyaf. Bahagia........bahagia berbalut hati sang
dermawan. (Ridha Nori Irianto, S.Pd. Guru SMP Yapena
Lhokseumawe)
No comments:
Post a Comment