Setahun sudah Topeng menuntut
ilmu agama dari kakeknya. Baginya itu belum seberapa. Ia belum merasa puas.
Anak itu masih ingin menuntut ilmu lebih banyak lagi. Oleh sebab itu, lelaki itu ingin mengikuti hasrat
hatinya.
Dia mengembara entah kemana sembari menyumbangkan ilmu yang sudah dimilikinya. Dengan berbekal ilmu itu pula Topeng mulai melintasi daerah yang ada di tanah leluhurnya. Ia masih sendiri, tidak ada yang menemaninya kecuali sebuah kitab suci.
Dia mengembara entah kemana sembari menyumbangkan ilmu yang sudah dimilikinya. Dengan berbekal ilmu itu pula Topeng mulai melintasi daerah yang ada di tanah leluhurnya. Ia masih sendiri, tidak ada yang menemaninya kecuali sebuah kitab suci.
Di desa yang
disinggahinya, di pedalaman jauh di balik gunung berlembah nan indah, lelaki
itu menjadi guru agama. Pemuda-pemuda tanggung, anak, dan remaja, bahkan orang
tua, serta tetua adat Peureulak pun ikut belajar bersamanya. Sekejap saja
muridnya telah berjibun, banyak, berpinak-pinak, yang berguru kepadanya. Mereka
menyenanginya karena Topeng berakhlak baik. Seluruh umur digunakannya untuk
beramal. Sebab, baginya beramal itu sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Beramal
itu ibarat kita menanam sebiji tanaman. Satu yang ditanam akan menghasilkan
tujuh tunas baru, yang masing-masing tunas akan memiliki tujuh puluh cabang,
setiap cabangnya akan menghasilkan seratus tunas-tunas baru, dan tiap tunas
barunya itu akan mendatangkan seribu cabang berikutnya. Betapa banyaknya dan
kita sendiri tak mungkin dapat menghitungnya.
Pada suatu
hari, ia membeli sebuah cerek di kedai atau toko kampung itu. Benda yang
dibelinya itu sudah sangat tua dan berkarat pula.Sepertinya telah tidak
berharga lagi. Meskipun demikian, Topeng sangat senang pada benda tersebut.
Karena mengumpulkan benda-benda bekas adalah salah satu kegemarannya sejak
kecil. Orang tuanya sempat menjulukinya dengan si Mainan Ajaib.
Di rumah pondoknya, di rumah
sementara, di rumah yang disinggahinya, benda itu dicuci, dibersihkan, dan
depernisnya. Benda itu pun berubah, tidak buruk lagi. Wanginya menyibak ke
mana-mana. Bersih dipandang dan menyegarkan. Cek ile..!! Tidak lama kemudian,
dia memanggil ketiga murid pilihannya.“ Coba lihat benda apa ini ! “ katanya.Ketiga
anak didiknya menatap heran dan tidak tahu benda yang di depannya itu.“Sekarang
aku akan membuatkan kalian minuman yang lezat. Minuman bukan beralkohol, tetapi
minuman yang menyehatkan, membangkitkan sendi gerakmu, dan.. pokoknya siiip !”
ucapnya penuh bangga.
Cerek itu diletakkan di
perapian. Tiba-tiba saja ada keanehan menjelma ke permukaan.Ia berekor dan
memiliki empat kaki.“ Oh, panas.., aku terbakar...aku terbakar..!” teriaknya
sembari melompat ke luar dari api dan terus lari. Cepat sekali larinya,
kayaknya melebihi kecepatan sprinter dunia saja.Keheranan Topeng semakin
bertambah karena cereknya sudah minggat dari perapian.
“ Cepat tangkap.., jangan
sampai lolos !” teriaknya keras.
Seorang di antara siswanya
memegang sapu ijok, yang lain memegang kayu bersulut api, sedangkan yang
satunya lagi memegang bambu dan terus mengejar. Ketiganya tidak berhasil
menangkap benda yang berbentuk seperti burung itu. Mereka kalah cepat dengan
Topeng. Benda yang bersembunyi di balik semak berhasil ditangkapnya.
“Sekarang, aku ingin menjualmu
ke pasar burung atau juga ke pasar loak!” katanya.
“Jangan, Tuan, aku takut.
Mudah-mudahan aku nanti dapat menolong dirimu, kumohon Tuan, kumohon..!” kata benda itu lirh dan penuh harap
kecemasan.
Topeng senang mendengarnya.
Gembiranya menyeruak, menyebar-nyebar, berakar-akar, dan berserak-serak itada
kira. Dipandanginya benda itu dengan seksama. Dikecupnya pelan-pelan,
beulang-ulang, sampai menyentuh jiwanya, nalurinya, hatinya, dan perasaannya
yang paling dalam. Dibelai-belainya, digendong-gendongnya, dan ditimang-timang
seperti anak bayi yang baru dilahirkan ibunya beberapa hari.Sejak saat itu,
sejak perhitungan detik dimulainya, sejak kedua tangannya menyentuh jiwa raga
benda itu, sejak itu pula ia merawatnya dengan baik dan tulus ikhlas, tanpa
basa-basi, tanpa dusta menyelimuti hati.
Setelah sekian lama, pada
suatu malam yang gelap gulita, tidak tampak cahaya di luar rumah, tidak ada
kunang-kunang yang menerangi, dan tidak pula bulan menyinari alam semesta ini,
ketika Topeng selesai shalat tahajud, ia mendengar suara aneh dari cereknya
yang amat disayangnya itu.
“Tuan,Tuan Muda, aku sangat
berterima kasih padamu karena Tuan telah merawatku, menyayangiku, dan
melindungiku. Sekarang aku ingin membalas kebaikan, budi baikmu itu. Izinkanlah
aku untuk melakukannya !” “ Kamu...??!!”
“ Ya, ya......kalau Tuan mau, Tuan bisa mencobanya, “ kata Cerek.“ Mau
apa....?” tanya Topeng lagi.
“ Hanya dengan bismillah, Tuan
dapat menjadi kaya, banyak harta dan berlimpah-limpah.”
“Bukan harta yang kucari.
Harta yang banyak itu bukan milikku.”
“ Ya, ya, memang bukan milik
Tuan, tetapi milik orang yang memang membutuhkannya, membutuhkan pertolongan
tuan. Mau ya, Tuan ?”
“ Maksudmu ?” tanya Topeng
agak ragu.
“Dari perutku akan keluar
kepingan emas. Kuminta jangan sampai ada orang lain yang tahu selain Tuan.
Kalau sampai tubuhku jatuh ke tangan orang lain, maka aku kembali seperti dulu,
cerek yang berkarat, peyot-peyot, dan
tak berarti. Lakukanlah bila purnama tiba !”
Beberapa hari lamanya
kemudian, tibalah bulan purnama. Topeng mencobanya sendiri. Ternyata benar
adanya. Topeng menjadi kaya raya. Ia banyak mendapatkan kepingan emas,
berbatang-batang, berpetak-petak, dan berlempeng-lempeng. Kemudian
dibagi-bagikannya kepada para tetangga sekitarnya yang kurang mampu. Itu
berlangsung hingga berbulan lamanya.
Aneh, tetapi itulah yang
terjadi. Ternyata masih ada makhluk yang merasa iri kepadanya. Rupa-rupanya di
antara muridnya ada yang mengetahui rahasia itu. Ada yang mendengarkan
pembicaraan rahasia antara cerek dan Topeng waktu di kediamannya.
Seorang muridnya ternyata
busuk hatinya. Ia ingin mencobanya sendiri tanpa sepengetahuan Topeng. Waktu
itu Topeng tidak ada di biliknya. Muridnya itu kiranya rindu, tergila-gila pada
harta yang berlimpah seperti yang pernah dimiliki gurunya.
Mula-mula sekali, ketika
mencobanya memang berhasil. Sekali, dua kali, bahkan hingga ketiga kalinya,
muridnya itu menjadi kaya raya. Harta yang ditemukannya itu pun digunakannya
sendiri.Ia berfoya-foya sepuasnya, berhappy-happy, bergembira ria. Kedua sahabatnya
yang lain juga tidak dihiruaukan, tidak diberi tahu, tidak pula dibaginya,
termasuk juga fakir miskin di sekitarnya.Keberhasilan murid yang tamak itu ya
hanya sampai tiga kali saja. Ketika ia
hendak mencoba untuk yang keempat kalinya, si cerek berubah wujudnya seperti
sedia kala. Cerek berkarat seperti dulu lagi.
Hari-hari berkutnya hati si
murid yang dengki itu semakin gundah, sedih, duka nggak terbilangkan. Ia takut
dimarahi gurunya. Setiap bertemu Topeng, ia kerap menghindar. Anak itu malu
sejadi-jadinya. Namun, sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai,
akhirnya akan tercium juga baunya.“ Anakku, kemarilah !” kata Topeng pada
muridnya.Si murid yang loba itu terdiam. Dia nggak berkutik lagi. Mati kutu
rasanya. Anak itu telah ketahuan belangnya.
“Sekarang jawab dengan jujur,
kamu apakan cerek yang di tungku ? Mengapa dia bisa berkarat lagi ? Ayo, jawab!
Jangan bohongi dirimu sendiri. Allah pasti tahu apa yang kamu sembunyikan
selama ini !” kata Topeng penuh selidik.
“ Maafkan hamba Tuan Guru, memang
hamba yang telah mengambilnya. Hamba yang telah membuatnya demikian, Tuan Guru
!” akunya.
“ Baiklah kalau memang benar
yang kamu katakan itu. Sekarang kamu harus menanggung akibatnya sendiri. Cukup,
hanya sekali ini saja, esok jangan kamu ulangi lagi perbuatanmu yang jelek ini
!” kata Topeng mantap.
Akhirnya murid yang serakah
itu mendapat hukuman karena memiliki harta orang lain tanpa izin. Topeng
menghukumnya dengan hukuman yang setimpal atas perbuatannya yang lalu.
No comments:
Post a Comment